Pengertian Pupuh

Pupuh (bahasa SundaPepeuh) adalah bentuk puisi tradisional Jawa yang memiliki jumlah suku kata dan rima tertentu di setiap barisnya. Terdapat 17 jenis pupuh, masing-masing memiliki sifat tersendiri dan digunakan untuk tema cerita yang berbeda. Diantaranya:

  1.  Asmarandana
  2. Balakbak
  3. Dangdanggula
  4. Durma
  5. Gambuh
  6. Gurisa
  7. Jurudemung
  8. Kinanti
  9. Lambang
  10. Magatru
  11. Maskumambang
  12. Mijil
  13. Pangkur
  14. Pucung
  15. Sinom
  16. Wirangrong
  17. Ladrang

Pupuh adalah pola penyusunan syair atau rumpaka. Pengertian ini berlandaskan fungsi dari pupuh, yaitu sebagai sumber pola untuk membuat rumpaka yang akan digunakan sebagai sarana penyajian Tembang.

  • Aturan-aturan Pupuh

Jumlah pupuh yang sebenarnya adalah sebanyak 16 pupuh  terdiri dari 8 pupuh kelompok sekar tengahan, dan 8 pupuh kelompok sekar alit. Setelah datang ke Jawa Barat Jumlah pupuh menjadi 17, karena bertambah satu pupuh ciptaan Rd. Machyar Anggakoesoemadinata, yang berjudul pupuh Ladrang. Sedangkan dua pupuh lainnya yang diciptakan Rd. Machyar yaitu pupuh Koyopos dan Pupuh Raja Pulang tidak sempat dimasukan ke dalam kelompok pupuh yang berlaku sampai sekarang, sehingga masyarakat atau seniman pun tidak pernah mempelajari tentang dua lagam tembang pupuh tersebut sehubungan dengan mangkatnya Rd. Machyar Anggakoesoemadinata; dua nama pupuh itu berdasarkan catatan Atik Soepandi, S.Kar. aturan-aturan yang telah ditentukan yaitu diantaranya:

  1. Jumlah Padalisan atau baris dari setiap bait atau pada.
  2. Jumlah suku kata (engang) dari tiap-tiap baris yang disebut Guru Wilangan.
  3. Bunyi vokal akhir pada setiap baris (padalisan) yang disebut dengan guru lagu;
  4. Setiap pupuh memiliki watak lagu.

Tinggalkan Balasan